Hampir semua dari kita pernah dimintai doa oleh orang lain, entah keluarga, teman, kerabat atau dari orang yang bahkan tidak kita kenal.

Mohon doanya ya‘, suara penuh sukacita dari mempelai di pelaminan. ‘Aku mau tes minggu depan, doakan ya‘, begitu pesan singkat dikirim. ‘Mohon doa dengan sangat untuk kesembuhannya ya, terima kasih banyak, semoga nanti Allah yang membalas kebaikan njenengan‘, begitu suara lirih dari sudut telepon yang lain.

Lalu, sejauh apa kita merespon permintaan-permintaan tersebut? Pesan singkat (sms) boleh jadi akan dibalas langsung dengan doa melalui sms pula. Bagaimana dengan permintaan yang diucap secara lisan? Apa yang kita lakukan setelah mengiyakan untuk mendoakan? Menyisihkan waktu sejenak dan mengkhususkan untuk berdoa, membawanya di doa setelah sholat 5 waktu, atau sampai membawanya secara khusus pada shalat hajat? Atau mungkin cukup menjadikan satu pada doa sapu jagad? Atau tidak ada sama sekali bahkan.

Tulisan ini saya buat untuk mengigatkan saya setidaknya, yang belum merespon secara penuh dan sungguh-sungguh atas semua permintaan doa yang sempat ditujukan ke saya. Pernah, karena tidak bisa dibilang rutin dan selalu, saya mendoakan seseorang yang jauh seusai sholat, beriring dengan doa yang biasa saya panjatkan. Disana saya merasakan ketentraman dan keterjalinan ikatan batin, mengirim doa bahkan untuk yang jarang bersua, yang sedang berharap agar Tuhan penguasa alam mengabulkan doanya. Mengetuk pintu Tuhan dari banyak hati adalah penting, seperti halnya saya selalu meminta orang tua untuk berdoa terutama pada saat-saat khusus, atau saya telepon saudara yang jauh untuk mendoakan saya ketika saya memiliki hajat, karena saya tidak pernah tahu dari hati yang mana doa akan terkabul. Saya ingin sekali merangkum hutang-hutang doa untuk mereka yang belum saya tunaikan, mendoakan dengan khusyu’ seolah itu adalah hajat saya pribadi.

Mari saling berkirim doa, sampai pada mereka yang tidak pernah tahu kalau meraka kita doakan.


Jangankan punya keinginan kecil, punya keinginan besar pun boleh, bahkan dianjurkan. Saya punya beberapa keinginan yang belum kesampaian, karena niat dan kesempatannya belum ketemu:

1. Nonton festival layang-layang
2. Naik Trans Jogja
3. Main ke Ulen Sentalu
4. Beli jenis jajanan jaman SD
5. Nonton sanggar dan pertunjukan angklung ‘Udjo’
6. Coba makan di warung depan Pasar Beringharjo, yang buka malam hari. Makanannya kelihatan miroso.
7. Motret perilaku pemakai jalan yang aneh-aneh.
8. Dateng ke acaranya Helvy atau Asma Nadia, workshop atau seminar penulisan.
9. Lihat langsung Gunungan Jogja
10. Lihat luar angkasa dari teropong Boscha.

Setidaknya keinginannya saya tulis dulu untuk mbuka’ dalan.


Bentuk-bentuk ucapan seperti ini beberapa kali saya dengar, yang sepertinya membebaskan diri dari Suudzon (berprasangka buruk) dan Ghibah (membicarakan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang dibicarakan alias ngrasani)

Ini saya ndak maksud ngomingin orang ni, kamu boleh percaya boleh ngga’ terserah kamu. Dia itu ya, kabarnya dia baik-baik ma tetangga baru-baru ini karena mau nyalon jadi anggota dewan. Aku bukannya sirik ni ngomongin gini, cuma denger-denger aja dari orang sekitar sini, kabarnya juga dah santer kok, kaya’nya si bener. Tapi ini ndak maksud ngomongin orang lo

Saya ndak bermaksud Suudzon ya, tapi sepertinya orang itu mulai mendekat dengan si Mbak karena ada maunya. Ini bukan Suudzon lo

Sepertinya kok sama saja, tetap Ghibah dan Suudzon.


Setelah cukup lama direncanakan dan dibayang-bayangkan, akhirnya kesampaian juga mengumpulkan buku-buku yang bersebaran di rumah ke satu tempat dan mengategorikan berdasar bidang ilmunya. Kalau mengikuti definisi tradisional, perpustakaan adalah kumpulan buku dan majalah, yang lebih umum dikenal sebagai koleksi besar yang dikelola sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat luas, begitu kurang lebih wikipedia menjelaskan. Sedangkan dalam definisi modern, perpustakaan didefinisikan sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam bentuk apapun. Dalam perpustakaan modern, informasi tidak melulu berbentuk buku tercetak, namun bisa dalam wujud data digital. Sepertinya belum sampai kalo yang ada di rumah disebut perpustakaan, jadi saya sebut saja Pojok Baca, selain memang tempatnya ada di pojokan ruang.

Buku yang ada saat ini saya bagi kedalam 9 kategori: Novel, Pengembangan Diri dan Motivasi, Pengetahuan Umum (Kesehatan-Biografi-Bisnis-Bahasa), Komik dan Novel Remaja, Hobi (sebagian besar tentang Fotografi dan majalah bertema rumah, ada juga sedikit tentang travelling dan kuliner), Parenting-Pernikahan-Keluarga, Budaya (Jawa – baru senang dengan agungnya Budaya Jawa), Agama, dan Novel Islami. Waktu memilih dan memilah buku itu, ternyata masih banyak yang saya belum katamkan, atau kalaupun yang sudah, saya akan mengalami kesulitan kalau diminta menceritakan kembali isinya. Selain memang bacanya sudah lama, juga barnagkali hanya sekedar baca-baca, tidak diseriusi untuk dipelajari. Dan ternyata juga, buku yang masih belum sama sekali saya baca juga ada, tidak cuma satu bahkan. Tapi memang begitu, kebiasaan saya kalau pas ada buku menarik dan terjangkau, dibeli dulu meski nanti bacanya lain waktu.

dsc00551

Di dekat rak baca itu saya taruh meja yang tingginya pas untuk nulis kalau duduknya di lantai. Kurang lebih ukuran tingginya seperti meja di warung lesehan. Meja ini maksudnya untuk menunjang kenyamanan baca dan juga tulis, misal mau ngetik-ngetik isi blog seperti ini. Juga, untuk lebih memungkinkan untuk menjamu teman yang datang, menjamu dengan buku, jadi tidak melulu harus di ruang tamu. Bisa sekalian nggosip-nggosip soal isi buku.

Harapannya ya dengan Pojok Buku ini saya bisa semakin rajin baca, juga orang-orang di sekitar saya tentunya. Ciao !!!


Saya duduk di kursi paling belakang sebelah kiri dekat jendela, hanya dengan satu orang di sebelah saya dalam penerbangan Jakarta-Jogja. Sudut pandang yang sangat jarang saya nikmati, melihat seluruh isi pesawat dari kursi belakang dengan leluasa ; Buah dari check-in yang hampir terlambat.

Sejak mulai duduk, saya sibuk dengan buku yang baru saja saya beli di kounter buku bandara, sedangkan Mas yang di sebelah saya asyik baca satu Surat Kabar Harian (SKH) Nasional. Mbak-mbak pramugari dengan senyumnya membagikan permen ke penumpang, lalu selang beberapa saat sementara pesawat bergerak ke landas pacu, prosedur keselamatan pun mulai diperagakan.

flight-attendant

Tadinya saya mengira Mas yang ada di sebelah saya ini istirahat membaca, dia menurunkan SKH nya kemudian menyandarkan kepalanya ke posisi yang lebih santai. Kurang lebih 2 menit berselang, si Mas kembali membaca SKH nya itu, tepat setelah mbak Pramugari selesai dengan seluruh peragaan prosedur keselamatannya.

Peragaan prosedur keselamatan memang isinya selalu sama. Tidak sedikit penumpang lebih memilih sibuk dengan urusan sendiri sementara mbak Pramugari tetap dengan senyum ramahnya menyampaikan pesan keselamatan. Perilaku seperti Mas yang ada di sebelah saya memang patut dicontoh ; menghentikan sejenak aktivitas untuk memperhatikan, atau setidaknya memberikan penghormatan kalau memang sudah tahu prosedur keselamatannya. Mas itu juga sudah memasang sabuk pengamannya tanpa masalah jauh sejak awal, sebelum peragaan dimulai. Tafsiran saya, dia sudah tahu isi peragaan keselamatan. Yang baru saja dilakukannya adalah murni bentuk penghormatan, yang ternyata hanya sedikit saja dilakukan oleh orang-orang yang ada saat itu, dan saya juga masih sibuk dengan buku yang saya baca. *merasa diingatkan*