Bentuk Penghargaan
Saya duduk di kursi paling belakang sebelah kiri dekat jendela, hanya dengan satu orang di sebelah saya dalam penerbangan Jakarta-Jogja. Sudut pandang yang sangat jarang saya nikmati, melihat seluruh isi pesawat dari kursi belakang dengan leluasa ; Buah dari check-in yang hampir terlambat.
Sejak mulai duduk, saya sibuk dengan buku yang baru saja saya beli di kounter buku bandara, sedangkan Mas yang di sebelah saya asyik baca satu Surat Kabar Harian (SKH) Nasional. Mbak-mbak pramugari dengan senyumnya membagikan permen ke penumpang, lalu selang beberapa saat sementara pesawat bergerak ke landas pacu, prosedur keselamatan pun mulai diperagakan.

Tadinya saya mengira Mas yang ada di sebelah saya ini istirahat membaca, dia menurunkan SKH nya kemudian menyandarkan kepalanya ke posisi yang lebih santai. Kurang lebih 2 menit berselang, si Mas kembali membaca SKH nya itu, tepat setelah mbak Pramugari selesai dengan seluruh peragaan prosedur keselamatannya.
Peragaan prosedur keselamatan memang isinya selalu sama. Tidak sedikit penumpang lebih memilih sibuk dengan urusan sendiri sementara mbak Pramugari tetap dengan senyum ramahnya menyampaikan pesan keselamatan. Perilaku seperti Mas yang ada di sebelah saya memang patut dicontoh ; menghentikan sejenak aktivitas untuk memperhatikan, atau setidaknya memberikan penghormatan kalau memang sudah tahu prosedur keselamatannya. Mas itu juga sudah memasang sabuk pengamannya tanpa masalah jauh sejak awal, sebelum peragaan dimulai. Tafsiran saya, dia sudah tahu isi peragaan keselamatan. Yang baru saja dilakukannya adalah murni bentuk penghormatan, yang ternyata hanya sedikit saja dilakukan oleh orang-orang yang ada saat itu, dan saya juga masih sibuk dengan buku yang saya baca. *merasa diingatkan*
Filed under: Perilaku | 3 Comments

Masnya percaya klo menghargai orang lain = menghargai diri sendiri. Hebat
Wah, sayangnya ga kenalan dengan Mas nya
Agree. Bahkan kata maaf dan terima kasih dan senyum terasa amat mahal belakangan.